Akhir-akhir ini jari saya sering terhenti saat scrolling di Instagram. Mata ini terpaku dan terkagum-kagum melihat posting yang bertebaran di linimasa tentang gerakan-gerakan lingkungan yang berhubungan dengan sampah plastik yang dilakukan oleh NGO dan masyarakat. Beramai-ramai memunguti sampah di pantai, lalu ada sekelompok anak muda nyebur langsung ke sungai untuk mengambil sampah (plastik) yang menghambat aliran.
Hari-hari kita saat ini memang sulit untuk lepas dari penggunaan plastik. Menurut Putra (2010) dunia industri menggunakan bahan sintetik seperti nylon, akrilik, plastik untuk menggantikan bahan alami seperti daun, kayu, sutra.
Suatu hari saya terhenyak menyadari bahkan sepotong jajanan pasar berupa lemper yang sudah tepat berbungkus daun, eh masih dilapisi plastik pembungkus juga. Lalu setiap menerima paket dari toko daring, pasti merasa bersalah akan bungkus plastik dan bubble wrap yang mengemasnya,
Mengenai definisi, sumber dan dampak ekologis sampah plastik sudah banyak dibahas ya. Artikel ini akan fokus membahas perbandingan antara sampah plastik dan sampah makanan.
Nah coba kita lihat dulu seberapa besar sih timbulan kedua jenis sampah ini.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) menunjukkan bahwa komposisi sampah sisa makanan (gambar 1) menempati peringkat pertama. Sedangkan sampah plastik berada di bawahnya dengan 18,2%.
Dengan jumlah sampah di Indonesia sebanyak 19.45 juta ton (2022) maka timbulan sampah makanan sebesar 8,3 juta ton dan sampah plastik sebesar 3,64 juta ton.
Tidak menafikan pentingnya pencegahan pengurangan sampah plastik, namun ternyata kalau terlalu fokus ke satu masalah saja, kita akan mengabaikan masalah yang lebih penting, yaitu sampah makanan.
Kenapa ya fokus bisa di sampah plastik dibandingkan sampah makanan yang jelas volumenya lebih besar?
Bisa jadi karena beberapa alasan berikut:
Plastik itu adalah bahan yang sulit terurai di alam. Plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk diuraikan, bahkan bisa sampai memakan waktu beratus-ratus tahun. Sebagai hasilnya, sampah plastik dapat menumpuk dan mencemari lingkungan dalam jangka waktu yang lama. Contohnya sampah dari tas plastik dapat 10-20 tahun, sendok plastik 200 tahun sampai botol plastik yang membutuhkan waktu terurai 450 tahun. Bahkan ada sampah plastik yang tidak dapat terurai sama sekali.
Sedangkan sampah makanan dapat terurai relatif lebih cepat hanya dalam 2-3 bulan saja.
Sebab lainnya, limbah plastik cenderung lebih sulit untuk didaur ulang. Banyak jenis plastik sangat sulit untuk didaur ulang dan akhirnya akan berakhir di tempat pembuangan akhir (open dumping, landfill). Hal ini mengakibatkan penumpukan sampah plastik yang semakin banyak di tempat pembuangan akhir, yang pada akhirnya semakin menumpuk dan dapat mencemari lingkungan.
Berbagai cara telah dilakukan, termasuk banyak orang yang telah melakukan diet plastik dan berganti menggunakan tas belanja selain plastik dengan bahan karung goni, kanvas, kertas (paperbag) dan lainnya yang kerennya disebut eco-bag.
Beberapa alternatif terkini untuk mendaur ulang sampah plastik adalah menjadikannya batu bata atau dikenal dengan eco-brick (Apriyani, 2020).
Sementara itu, sampah makanan, meskipun juga dapat mencemari lingkungan, namun lebih mudah diurai oleh mikroorganisme. Limbah ini juga dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Namun perlu diingat, sampah makanan dibuang dalam jumlah yang sangat besar, hal ini dapat menyebabkan masalah lingkungan yang tidak kalah kritis, seperti bau yang tidak sedap, penyebaran hama, dan pencemaran air tanah (leachate) yang sangat berbahaya jika masuk ke badan air (sungai, danau).
Sebuah laporan yang cukup komprehensif dibuat oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada tahun 2021 memaparkan data bahwa timbulan susut dan limbah pangan di Indonesia pada rentang waktu 200-2019 mencapai 115 - 184 kg/ kapita/ tahun. Hal ini setara dengan 213 - 551 triliun rupiah/ tahun, hal ini setara dengan dapat memberi makan 61 - 125 juta orang di Indonesia atau sama dengan 29 - 47% populasi negara kita.
Definisi resmi dari FAO susut pangan (food loss) adalah hilangnya atau berkurangnya kualitas makanan dari tahap produksi sampai konsumsi akhir. Sedangkan sampah makanan/ limbah pangan (food waste) adalah setiap makanan yang terbuang, tidak dimanfaatkan atau tidak dimaksimalkan penggunaannya pada setiap tahap rantai pasok makanan
Sampah makanan juga terkait erat dengan ketahanan pangan yang mempunyai 3 pilar yaitu ketersediaan, akses dan utilisasi.
Jadi tampaknya keduanya penting dan sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan bumi dan kehidupan manusia ya. Memang penting untuk mengelola limbah makanan dan juga limbah plastik dengan benar agar tidak merusak lingkungan dan membawa dampak buruk bagi manusia nantinya. Namun, karena limbah plastik memiliki dampak yang lebih buruk pada lingkungan dan lebih sulit untuk diatasi, maka seringkali limbah plastik menjadi fokus utama dalam upaya pengurangan limbah dan perlindungan lingkungan. Semoga hal ini tidak meluputkan perhatian kita dari memerangi limbah lain seperti limbah pangan
Pondok Kelapa, 20 April 2023
Referensi
Apriyani, A., Putri, M., & Wibowo, S. (2020). Pemanfaatan sampah plastik menjadi ecobrick. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 1(1), 48-50
Putra,H dan Yriandala, Y. (2010) Studi Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Produk dan Jasa Kreatif
Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Volume2, Nomor1, Januari2010, Halaman21‐31 ISSN:2085‐1227
https://www.popmama.com/life/health/jemima/alternatif-tas-pengganti-kantong-plastik-untuk-belanja?page=all
https://www.pramborsfm.com/entertainment/10-idol-k-pop-paling-terkenal-di-dunia-pilihan-majalah-inggris/3

Comments
Post a Comment