Salah satu negara yang paling maju dalam pengelolaan masalah food waste adalah negaranya Lisa dan Rose Blackpink, yaitu Korea Selatan. Negara penghasil K-Pop ini telah menjalankan berbagai cara yang efektif dalam menganani timbulan limbah makanan, mulai dari tingkat kebijakan, regulasi, edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sampai penggunaan teknologi. Korsel mengklaim telah berhasil me-recycle limbah makanan mereka sampai 95%, dibanding hanya 2% pada 1995.
Salah satu budaya kuliner yang menjadi penyebab timbulan limbah makanan adalah kebiasaan menyajikan "banchan" yaitu porsi-porsi kecil makanan (side dish) dalam ritual makan sehari-hari. Akibatnya banyak banchan yang tidak termakan dan menjadi limbah makanan.
A. Kebijakan & Regulasi
1. Pelarangan Membuang Limbah Makanan ke Land fill
2. Penerapan Pembayaran Limbah Makanan Berdasarkan Berat (Pay-as-You-Throw)
Salah satu kebijakan yang paling terkenal adalah sistem pembayaran berdasarkan berat limbah makanan. Pada dasarnya warga harus membayar untuk limbah makanan yang mereka buang berdasarkan beratnya. Ini dilakukan dengan menggunakan kantong plastik khusus (biodegrable bag) yang dapat dibeli dengan harga tertentu, yang hanya digunakan untuk membuang limbah makanan. Harga plastik ini kurang lebih Rp.120.000 untuk penggunaan satu bulan.
Dengan cara ini, warga didorong untuk mengurangi jumlah makanan yang dibuang karena mereka akan dikenakan biaya tambahan untuk membuang lebih banyak limbah. Hal ini memberi insentif ekonomi untuk mengurangi pemborosan makanan. Warga juga terbiasa terlebih dahulu membuang/ memeras kandungan air dalam limbah makanan, karena sebagian besar beratnya terdiri dari air. Dengan begitu warga akan membayar lebih murah, dan limbah yang dihasilkanpun relatif lebih kering.
Kebijakan ini telah menunjukkan pengurangan signifikan dalam jumlah limbah makanan yang dihasilkan, dan Korea Selatan kini memiliki salah satu tingkat pengurangan limbah makanan per kapita yang paling tinggi di dunia.
3. Kebijakan Pengurangan Limbah Makanan di Sektor Bisnis
Untuk mengurangi limbah makanan di sektor komersial dan mengedukasi bisnis untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola limbah mereka.
Di sektor bisnis, terutama di restoran dan supermarket, Korea Selatan juga mendorong kebijakan untuk mengurangi limbah makanan. Restoran didorong untuk memberi porsi yang lebih tepat, mengurangi makanan yang terbuang, dan menawarkan sisa makanan untuk didaur ulang atau disumbangkan.
4. Pengurangan Produksi dan Impor Makanan Berlebih
Pemerintah Korea Selatan juga memfokuskan kebijakan untuk mengurangi produksi makanan berlebih yang bisa berakhir sebagai limbah. Ini termasuk upaya untuk mengurangi stok makanan yang berlebih di pasar dan menjaga pasokan agar lebih efisien.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi pemborosan dalam rantai pasokan makanan yang bisa berakhir sebagai limbah karena tidak terjual atau rusak.
B. Penggunaan Teknologi
Tentunya efektivitas kebijakan di atas harus dipantau. Pemerintah mengembangkan sebuah teknologi dengan membuat sebuah mesin tempat sampah yang canggih. Tempat sampah ini full elektronik, diakses dengan kartu (semacam identitas elektronik), ditimbang secara digital, dikonversi dihitung berapa kewajiban untuk membayar.
Hal ini untuk memastikan efektivitas kebijakan "pay-as-you-throw". Di banyak tempat, limbah makanan dipantau menggunakan mesin yang dapat mengukur berat dan mengidentifikasi jenis makanan yang dibuang. Mesin ini juga dapat memberikan umpan balik kepada pengguna untuk memotivasi mereka mengurangi limbah.
- Tujuan: Sistem ini bertujuan untuk lebih memonitor dan menganalisis pola pembuangan makanan di tingkat rumah tangga dan komersial, serta untuk memfasilitasi daur ulang yang lebih efisien.
Pengolahan Limbah Makanan
- Deskripsi: Limbah makanan yang dikumpulkan tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir, melainkan diproses untuk digunakan kembali. Beberapa di antaranya diproses menjadi pupuk organik, pakan ternak, atau biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi.
- Tujuan: Pengelolaan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah limbah makanan yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, sekaligus memanfaatkannya untuk keperluan lain yang berguna, seperti energi terbarukan atau pupuk.
C. Edukasi dan Kampanye Kesadaran Publik
- Deskripsi: Pemerintah Korea Selatan secara aktif meluncurkan kampanye pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengurangi pemborosan makanan. Ini mencakup program-program di sekolah, tempat kerja, dan masyarakat untuk mengajarkan cara-cara mengelola makanan secara lebih efisien, seperti merencanakan porsi makan dengan lebih baik dan memanfaatkan sisa makanan.
- Tujuan: Mengubah pola pikir masyarakat agar mereka lebih sadar akan dampak lingkungan dan ekonomi dari limbah makanan, serta pentingnya mengurangi pemborosan makanan dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil dan Dampak Kebijakan
Kebijakan Korea Selatan terkait food waste telah membuahkan hasil yang positif:
- Pengurangan Limbah: Korea Selatan mengalami penurunan yang signifikan dalam jumlah limbah makanan per kapita. Di beberapa kota, limbah makanan telah berkurang hingga 50% sejak penerapan kebijakan ini.
- Sistem Pengelolaan yang Efisien: Negara ini kini menjadi model global dalam hal pengelolaan limbah makanan dan digunakan sebagai referensi oleh negara-negara lain yang ingin mengurangi limbah makanan mereka.
- Peningkatan Kesadaran: Kampanye kesadaran yang dilakukan telah berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya mengurangi limbah makanan, serta manfaat lingkungan dari pengelolaan makanan yang lebih efisien.
Secara keseluruhan, kebijakan food waste di Korea Selatan menunjukkan bahwa dengan adanya regulasi yang tegas, penggunaan teknologi, dan edukasi publik, sebuah negara dapat secara signifikan mengurangi pemborosan makanan dan mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Foto:
https://curiousfoodies.blog/2020/10/16/banchan/
https://www.korea.net/NewsFocus/Society/view?articleId=256651
Comments
Post a Comment